1. Perbedaan Antarperorangan
Perbedaan ini dapat berupa perbedaan
perasaan, pendirian, atau pendapat. Hal ini mengingat bahwa manusia adalah
individu yang unik atau istimewa, karena tidak pernah ada kesamaan yang baku
antara yang satu dengan yang lain.
Perbedaan-perbedaan inilah yang
dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya konflik sosial, sebab dalam
menjalani sebuah pola interaksi sosial, tidak mungkin seseorang akan selalu
sejalan dengan individu yang lain. Misalnya dalam suatu diskusi kelas, kamu
bersama kelompokmu kebetulan sebagai penyaji makalah. Pada satu kesempatan, ada
temanmu yang mencoba untuk mengacaukan jalannya diskusi dengan menanyakan
hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dibahas dalam diskusi tersebut.
Kamu yang bertindak selaku moderator
melakukan interupsi dan mencoba meluruskan pertanyaan untuk kembali ke
permasalahan pokok. Namun temanmu (si penanya) tadi menganggap kelompokmu payah
dan tidak siap untuk menjawab pertanyaan. Perbedaan pandangan dan pendirian
tersebut akan menimbulkan perasaan amarah dan benci yang apabila tidak ada
kontrol terhadap emosional kelompok akan terjadi konflik.
2. Perbedaan Kebudayaan
Perbedaan kebudayaan memengaruhi
pola pemikiran dan tingkah laku perseorangan dalam kelompok kebudayaan yang
bersangkutan. Selain perbedaan dalam tataran individual, kebudayaan dalam
masing-masing kelompok juga tidak sama.
Setiap individu dibesarkan dalam
lingkungan kebudayaan yang berbeda-beda. Dalam lingkungan kelompok masyarakat
yang samapun tidak menutup kemungkinan akan terjadi perbedaan kebudayaan,
karena kebudayaan lingkungan keluarga yang membesarkannya tidak sama. Yang
jelas, dalam tataran kebudayaan ini akan terjadi perbedaan nilai dan norma yang
ada dalam lingkungan masyarakat. Ukuran yang dipakai oleh satu kelompok atau
masyarakat tidak akan sama dengan yang dipakai oleh kelompok atau masyarakat
lain. Apabila tidak terdapat rasa saling pengertian dan menghormati perbedaan
tersebut, tidak menutup kemungkinan faktor ini akan menimbulkan terjadinya
konflik sosial.
Contohnya seseorang yang dibesarkan
pada lingkungan kebudayaan yang bersifat individualis dihadapkan pada pergaulan
kelompok yang bersifat sosial. Dia akan mengalami kesulitan apabila suatu saat
ia ditunjuk selaku pembuat kebijakan kelompok. Ada kecenderungan dia akan
melakukan pemaksaan kehendak sehingga kebijakan yang diambil hanya
menguntungkan satu pihak saja. Kebijakan semacam ini akan di tentang oleh
kelompok besar dan yang pasti kebijakan tersebut tidak akan diterima sebagai
kesepakatan bersama. Padahal dalam kelompok harus mengedepankan kepentingan
bersama. Di sinilah letak timbulnya pertentangan yang disebabkan perbedaan
kebudayaan.
Contoh lainnya adalah seseorang yang
berasal dari etnis A yang memiliki kebudayaan A, pindah ke wilayah B dengan kebudayaan
B. Jika orang tersebut tetap membawa kebudayaan asal dengan konservatif, tentu
saja ia tidak akan diterima dengan baik di wilayah barunya. Dengan kata lain
meskipun orang tersebut memiliki pengaruh yang kuat, alangkah lebih baik jika
tetap melakukan penyesuaian terhadap kebudayaan tempat tinggalnya yang baru.
3. Bentrokan Kepentingan
Bentrokan kepentingan dapat terjadi
di bidang ekonomi, politik, dan sebagainya. Hal ini karena setiap individu
memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda dalam melihat atau mengerjakan
sesuatu. Demikian pula halnya dengan suatu kelompok tentu juga akan memiliki
kebutuhan dan kepentingan yang tidak sama dengan kelompok lain. Misalnya
kebijakan mengirimkan pemenang Putri Indonesia untuk mengikuti kontes ‘Ratu Sejagat’
atau ‘Miss Universe’. Dalam hal ini pemerintah menyetujui pengiriman tersebut,
karena dipandang sebagai kepentingan untuk promosi kepariwisataan dan
kebudayaan.
Di sisi lain kaum agamis menolak
pengiriman itu karena dipandang bertentangan dengan norma atau adat ketimuran
(bangsa Indonesia). Bangsa Indonesia yang selama ini dianggap sebagai suatu
bangsa yang menjunjung tinggi budaya timur yang santun, justru merelakan
wakilnya untuk mengikuti kontes yang ternyata di dalamnya ada salah satu
persyaratan yang mengharuskan untuk berfoto menggunakan swim suit (pakaian
untuk berenang).
4. Perubahan Sosial yang Terlalu
Cepat di dalamMasyarakat
Perubahan tersebut dapat menyebabkan
terjadinya disorganisasi dan perbedaan pendirian mengenai reorganisasi dari
sistem nilai yang baru. Perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat dan
mendadak akan membuat keguncangan proses-proses sosial di dalam masyarakat,
bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena
dianggap mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat yang telah ada. Sebenarnya
perubahan adalah sesuatu yang wajar terjadi, namun jika terjadinya secara cepat
akan menyebabkan gejolak sosial, karena adanya ketidaksiapan dan keterkejutan
masyarakat, yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya konflik sosial.
Contohnya kenaikan BBM, termasuk
perubahan yang begitu cepat. Masyarakat banyak yang kurang siap dan kemudian
menimbulkan aksi penolakan terhadap perubahan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar